Kendala yang akan muncul bila kampus tetap memaksakan perkuliahan tatap muka.


Sempat hampir seminggu yang lalu beredar kabar yang juga sudah dikonfirmasi oleh pihak kampus, bahwa perkuliahan secara tatap muka akan kembali dilaksanakan pada tanggal 8 Juni mendatang. Namun, setelah adanya desakan dari Mahasiswa yang keberatan dan dibantu advokasi oleh BEM untuk meminta pihak jajaran kampus mempertimbangkan kembali adanya perkuliahan di waktu yang dimaksud. Melalui Rapat Pimpinan (RAPIM) Sabtu kemarin (30/05/20) akhirnya dibuat keputusan baru, bahwasanya Perkuliahan Daring akan tetap berlangsung hingga akhir semester genap ini. Hal ini dikonfirmasi kembali melalui Surat Edaran Nomor: 7358/SR/Rektor/UNIKOM/VI/2020 yang menyatakan demikian.

Namun, apakah dengan ditundanya perkuliahan tatap muka adalah pilihan yang terbaik? Kendala apa saja yang akan dihadapi bila perkuliahan tatap muka tetap dipaksakan?

Dikutip dari laman situs kompas.com (per-tanggal 2 Juni 2020) didapati ada tambahan kasus baru Virus Corona sebanyak 467 kasus yang kemudian menambah total kasus virus corona di Indonesia sebanyak 26.940 kasus, dengan pasien yang meninggal berjumlah 1.641 orang dan jumlah yang dinyatakan sembuh 7.637 orang. Adapun jumlah ODP yang tercatat sebanyak 48.358 orang dan PDP 13.120 orang. Semakin bertambahnya angka kasus pandemi, tentu akan semakin pula mengancam keamanan Mahasiswa dalam menjalani aktivitas perkuliahan bila nantinya perkuliahan tatap muka tetap berlangsung.

Melalui laman situs new.detik.com dalam Surat Keputusan Gubernur Jabar Nomor: 443/Kep.287-Hukham/2020 yang berisi tentang perpanjangan masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tingkat provinsi dalam rangka percepatan penanggulangan COVID-19. Mengambil dua poin penting yang tertera; pertama, untuk wilayah Kabupaten/Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten/Kota Bekasi (Bodebek) PSBB akan diperpanjang selama enam hari, terhitung tanggal 30 Mei 2020 sampai dengan 4 Juni 2020. Sementara itu untuk wilayah Jabar di luar Bodebek (termasuk Bandung di dalamnya), masa perpanjangan PSBB selama 14 hari terhitung 30 Mei 2020 sampai dengan 12 Juni 2020. Jika perkuliahan tatap muka tetap dilaksanakan pada tanggal 8 Juni, maka tentu ini akan bertentangan dengan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pihak Gubernur Jabar.

Selanjutnya bagaimana SOP atau Protokol Kesehatan yang akan ditetapkan oleh pihak kampus? Apakah hanya dengan selalu mengenakan masker dan menghindari kerumunan yang tidak perlu di lingkungan kampus cukup untuk menjamin kesehatan Mahasiswanya selama berkuliah? Oleh Archy Reynaldy selaku Presiden Mahasiswa Universitas Komputer Indonesia menambahkan bahwasanya “… kampus perlu membuat regulasi yang jelas terkait dengan hal ini, mulai dari pemberangkatan sejumlah mahasiswa di berbagai daerah untuk hadir daerah kampus (Bandung), lalu isolasi mandiri yang harus diterapkan, dan lagi regulasi kesehatan sangat penting. … ” banyak aspek-aspek mendetail yang perlu untuk dipertimbangkan oleh pihak kampus, seperti halnya pengadaan Rapid Test untuk setiap jajaran Unikom; Staff, Dosen, Karyawan, juga Mahasiswa. Rapid Test merupakan sebagian kecil dari tindakan yang preventif yang perlu dilakukan oleh kampus, guna meminimalisir penyebaran pandemi ini. Archy menambahkan bahwa ini masih belum cukup untuk bisa mengatasi golongan baru, yaitu OTG (Orang Tanpa Gejala) yang mana akan menjadi tantangan besar untuk pihak kampus.

Dengan ini, apakah kebijakan yang dibuat dan telah disepakati sudah merupakan pilihan yang terbaik? Semoga demikian.
Selanjutnya mari sama-sama kita tetap menjaga kesehatan dan tentunya selalu bersemangat dalam melaksanakan perkuliahan dalam jaringan mendatang. Stay safe, stay healthy guys.

Scripwriter: Melvin
Dokumentasi: Dewi
About Author
admin