Tentang Kami

Tahun 1998 merupakan tahun di mana usaha penerbitan baik itu surat kabar, majalah, tabloid mengalami pertumbuhan yang cukup besar. Hal ini dikarenakan runtuhnya orde baru yang dianggap mengekang informasi suatu pemberitaan dan didukung oleh regulasi yang memudahkan bagi siapa saja yang mau mendirikan media cetak. Kondisi semacam ini mendorong para jurnalis untuk mendirikan suatu media informasi sehingga banyak media cetak bermunculan bahkan sampai ke kampus-kampus bak jamur di musim penghujan.

Namun yang terjadi di kampus UNIKOM (dulu masih STKB, STIE dan IGI) sangatlah kontradiktif, tahun 1998 adalah merupakan awal tahun kevakuman organisasi pers mahasiswa yang bernama Semanggi. Semanggi yang menerbitkan buletin semanggi ini, cenderung menurun operasionalnya. Terbukti sejak tahun itu sampai tahun 2000 Semanggi tidak dapat melaksanakan fungsinya sebagai penyebar sumber informasi kepada para mahasiswa waktu itu.

Salah satu faktor kemunduran atau vakumnya Semanggi adalah karena tidak adanya proses kaderisasi, yang akan menjadi penerus organisasi di samping fasilitas pendukung yang terbatas. Melihat fenomena yang terjadi waktu itu, di mana sumber informasi dari luar kampus begitu banyak yang mengandung nilai kebenarannya. Akhirnya, tahun 2001 Rektor Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bapak Edy S. Soegoto, M.Sc memandang perlu mengaktifkan kembali suatu wadah penyampai informasi yang baik dan benar antara Rektorat dengan mahasiswa atau sebaliknya.

Keinginan Rektor disampaikan secara langsung ke Pengurus Senat Mahasiswa (Sema) Unikom periode 2001/2002 yang diketuai oleh Saudara Hidayat. Pada akhirnya sema menanggapi positif keinginan rektor dengan membentuk panitia pembentukan oleh bidang Informasi dan Komunikasi Sema yanng dikoordinatori oleh Saudara Bagus Luhur Budi Utomo. Tidak lama berselang panitia tersebut mengundang perwakilan dari HIMA dan UKM yang ada di lingkungan Unikom bersama pengurus Semanggi yang masih ada dengan maksud untuk membicarakan pembentukan atau pengaktifan kembali organisasi pers kampus.

Pertemuan yang diadakan sekitar awal bulan januari 2002 tersebut menghasilkan keputusan untuk mengganti nama wadah pers mahasiswa Semanggi dengan nama yang baru, dan belum ditetapkan. Hari itu juga langsung membentuk pengurus baru yang dipimpin langsung oleh Bagus sendiri sebagai Pemimpin Umum dari jurusan Ilmu Komunikasi dengan Pimpinan Redaksi saudara Awan Komara dari jurusan Manajemen. Tindak lanjut dari pertemuan pertama itu, pengurus terpilih senantiasa mengadakan pertemuan-pertemuan dengan tujuan untuk memahami program kerja suatu organisasi pers mahasiswa (Persma) termasuk ke dalam pembahasan pada pertemuan tersebut adalah membahas mengenai penamaan organisasi.

Dari sekian banyak nama yang diajukan terpilihlah BIRAMA UNIKOM sebagai identitas organisasi pers mahasiswa Unikom, nama tersebut diajukan oleh saudara Iyus Rusandi dari jurusan Manajemen. Penamaan Birama Unikom tersebut kependekan dari Buletin Interaksi dan Akltualisasi Mahasiswa Unikom. Setelah proses pertemuan dapat dikatakan selesai, pengurus langsung menghadao Pembantu Rektor III Unikom, Bapak Drs. Pandu Edhi Kuncoro (Alm) dengan maksud untuk mempersiapkan pengesahan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru berikut SK dari Rektor, dan beliau pun menanggapinya dengan antusias.

Berdasarkan SK Rektor Nomor 234/SK/Rektor/Unikom/II/2002 tertanggal Februari 2002 Unit Kegiatan Mahasiswa Birama disahkan dengan jumlah pengurus 30 orang dan berhak untuk melaksanakan seluruh program kerja sebagai wadah penyampai informasi di lingkungan kampus Universitas Komputer Indonesia yang sekaligus mencabut SK Pengurus Semanggi Nomor 7/SK/XI/IGI/1997. Dalam proses awal perjalanan UKM Birama tidak semudah yang dibayangkan, di mana dalam perjalanannya Buletin Birama Unikom tidak dapat menerbitkan suatu buletin dikarenakan banyaknya penghambat.

Faktor penghambat yang menjadi masalah, di antaranya pemberian ruangan yang terlambat, sumber daya manusia yang kurang memahami Ilmu Kejurnalistikan, keterbatasan waktu, dan lainlain sehingga, harapan 3 (tiga) bulan sekalipun tidak mampu direalisasikan. Memahami semboyan “Pengalaman adalah guru yang terbaik”, maka pengurus Birama periode 2002/2003 tidak menginginkan hal serupa terulang kembali. Pada Musyawarah Besar (Mubes) Birama program kerja yang dianggap bisa mengeluarkan atau menerbitkan majalah dalam kurun waktu tiga bulan sekali dikaji ulang termasuk perubahan buletin menjadi majalah Birama yang hingga saat ini masih eksis dengan penerbitan dua kali setahun.